Wisata Hati
Jumat, 25 Mei 2012
Empat Nasehat Nabi saw. Terhadap Abu Dzar Al_ghifari
Dari Rasulullah Saw, beliau bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari r.a "Wahai Abu Dzar, perbaruilah kapal Anda,karena laut itu begitu dalam ; bawalah bekal yang sempurna (cukup), karena perjalanan menuju akhirat itu amat jauh ; peringanlah beban, karena jalan pendakian itu amat melelahkan ; ikhlaslah dalam beramal, karena sesungguhnya Sang korektor (yang meneliti) amat jeli dan teliti.
Jumat, 12 Maret 2010
HIDUP TANPA IBU (KARYA NOFRIZAL XI IS 1)
IBU … ENGKAULAH MATAHARI HIDUPKU
DAN ENGKAULAH TEMPATKU BERTEDUH
TETAPI SEKARANG ENGKAU TELAH TIADA
TANGANMU TAK BISA LAGI MENGHAPUS AIR MATAKU
DAN NASEHATMU TAK LAGI KUDENGAR
YANG SELAMA INI KU ABAIKAN
MENGAPA ENGKAU TERLALU CEPAT
MENINGGALKAN KU
DISAAT AKU BUTUH DIRIMU DI SISIKU
OH TUHAN …
BEGITU CEPAT ENGKAU MENGAMBIL DIRINYA
DI SAAT AKU INGIN MEMBAHAGIAKANNYA
YANG UNTUK SEKIAN KALINYA DIA MEMBAHAGIAKANKU
IBU, BAYANGANMU SELALU ADA DALAM HIDUPKU
WALAUPUN ENGKAU TELAH TIADA
HANYA DOA YANG BISA KUTITIPKAN UNTUKMU
SEMOGA ENGKAU BAHAGIA DI ALAM SANA
DAN ENGKAULAH TEMPATKU BERTEDUH
TETAPI SEKARANG ENGKAU TELAH TIADA
TANGANMU TAK BISA LAGI MENGHAPUS AIR MATAKU
DAN NASEHATMU TAK LAGI KUDENGAR
YANG SELAMA INI KU ABAIKAN
MENGAPA ENGKAU TERLALU CEPAT
MENINGGALKAN KU
DISAAT AKU BUTUH DIRIMU DI SISIKU
OH TUHAN …
BEGITU CEPAT ENGKAU MENGAMBIL DIRINYA
DI SAAT AKU INGIN MEMBAHAGIAKANNYA
YANG UNTUK SEKIAN KALINYA DIA MEMBAHAGIAKANKU
IBU, BAYANGANMU SELALU ADA DALAM HIDUPKU
WALAUPUN ENGKAU TELAH TIADA
HANYA DOA YANG BISA KUTITIPKAN UNTUKMU
SEMOGA ENGKAU BAHAGIA DI ALAM SANA
AKAN DATANG SUATU ZAMAN
Akan datang suatu hari … Mulut terkunci … Kata tak ada lagi … Akan tiba masanya … Tak ada lagi suara dari mulut kita dan akan tiba masa hari perhitungan semua amal dan dosa. Allah menjelaskan pada kita “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Q:S Yassin,65). Dengan perintah Allah malaikat maut bisa tamatkan cita-cita manusia yang mempunyai sejuta impian yang hebat dengan MATI… Maut akan mengantar manusia dari mahligai yang tinggi ke lubang kubur perut bumi. Tidak ada lagi kawan-kawan sebaliknya terperangkap dalam kesunyian yang menakutkan sampai hari berbangkit. …. Jika kita selalu terlupa pada hari kita mati, maka saatnya kita mulai sadar dan insaf untuk apa kita hadir di permukaan bumi ini.
KISAH SEORANG ANSHAR
Muslim dan dan lain-lainnya mentakhrij dari abu hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “ada seorang laki-laki menemui rasulullah shalallahu alaihi wa sallam seraya berkata, “sesungguhnya aku dalam keadaan lapar.” Beliau mengirim seseoarang untuk meminta kepada salah seorang istri beliau. Namun dia juga tidak mempunyai apapun kecuali air minum. Kemudian utusan itu disuruh menemui istri beliau yang lain, namun jawabannya juga sama, begitu pula ketika semua istri beliau. Maka beliau bersabda kepada orang-orang yan berada di tempat itu, “barang siapa malam ini berkenan menjamu tamu, niscaya allah akan merahmatinya.” Ada seseoarang dari anshar bangkit berdiri seraya berkata,” aku wahai rasulullah.” Lalu orang anshar ini pulang menuju tempat tinnggalnya dan bertanya kepada istrinya,” apakah engkau mempunyai makanan ?” “tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak,”jawab istrinya. “hiburlah mereka dengan sesuatu. Jika mereka minta makan malam, bujuklah agar mereka tidur. Jika tamu sudah datang, matikan lampu dan tampakkan kita seakan-akan kita sudah makan.” Dalam riwayat lain di sebutkan,”jika tamu kita hendak makan, hampirilah lampu dan matikan.” Ketika tamunya sedang makan, orang anshar dan istrinya hanya duduk saja, sehingga malam itu mereka harus menahan lapar. Pada keesokan harinya mereka berdua bertemu rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,” Allah pun merasa taajub karena perbuatan kalian berdua terhadap tamu itu.” Dalam riwayat lain ditambahi, lalu turun ayat,’ dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Quran Surat Al-hasyr:9. Begitulah yang disebutkan di dalam at-targhib wat-tarhib. Al-bukhary dan an-nasa’y juga mentakhrijnya. Dalam riwayat muslim lainnya disebutkan nama orang anshar itu, yaitu abu thalhah, seperti yang di sebutkan didalam tafsir ibnu katsir, 4/338
Sumber :Sirah Sahabat Keteladanan Orang-orang di sekitar Nabi. Karya Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy. Penerbit Pustaka Al-Kautsar.
Sumber :Sirah Sahabat Keteladanan Orang-orang di sekitar Nabi. Karya Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy. Penerbit Pustaka Al-Kautsar.
Rabu, 04 Maret 2009
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam. Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh Penjaga Kebun Hikmah)
Menahan Amarah
Oleh : Nasher Akbar
''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (Ali-Imron: 133-134).Amarah merupakan tabiat manusia yang sulit untuk dikendalikan. Dan, Allah menjadikan orang yang mampu untuk menahan amarahnya sebagai salah satu ciri orang yang bertakwa. Di samping itu Allah akan memberikan pahala kepada orang yang menahan amarahnya lalu memaafkan mereka yang menyakitinya. Allah berfirman, ''Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.'' (Asy-Syuura: 40).Abu hurairah meriwayatkan bahwa pada suatu hari, seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW. Ia berkata kepada beliau. Ya Rasulullah! Nasihatilah saya! Sabdanya, ''Janganlah engkau marah.'' Lalu beliau ulangkan beberapa kali, dan sabdanya, ''Jangan engkau marah.'' (HR Bukhori).Penekanan Rasulullah SAW di atas menunjukkan betapa pentingnya menahan amarah. Karena ia adalah penyebab terjadinya pertikaian, perpecahan, dan permusuhan. Dan bila ini terjadi, maka akan membawa dampak negatif kepada umat Islam. Oleh sebab itu pula, Islam tidak membenarkan seorang Muslim untuk saling bertikai dan saling berpaling satu sama lain melebihi dari tiga malam. Sahabat Abu Bakar ra pernah mendapatkan teguran dari Allah SWT karena kemarahan yang dilakukannya dengan bersumpah untuk tidak memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Allah berfirman, ''Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat-(nya). Betapa indahnya dunia ini, jika setiap orang berusaha menahan amarahnya. Pertikaian, kerusuhan, permusuhan di mana-mana tidak akan terjadi. Karena kejahatan yang dibalas dengan kejahatan tidaklah memberikan solusi, namun menambah persoalan dan memperpanjang perselisihan.
Sumber : Republika
Selasa, 03 Juni 2008
Pasang Surut Kehidupan
Cita-cita tak selamanya jadi kenyataan, bahagia yang diharap, badai yang diraih. Berharap terbang keawan biru, yang ada justru petir yang menyambar. Berharap taman yang sarat semerbak bunga-bunga kehidupan, yang didapat justru simbol-simbol kematian. Kehidupan menjadi awan pekat yang penuh kebisuan dan sarat penderitaan. Waktu pun seolah bergerak lamban, sementara kebahagiaan terbang kian jauh dan menjadi hal yang mustahil untuk diraih.
Tapi, ketika cita-cita itu berhasil di gapai, bahagia yang diharap datang sesuai harapan, dunia serasa berbunga-bunga. hari-hari begitu indah mempesona. beban hidup serasa menghilang. Canda-tawa, senyum bahagia senantiasa nampak dalam setiap detik. Bahkan waktu pun terasa begitu cepat berlalu.
Kehidupan ibarat gelombang, pasang surut hal biasa, seperti putaran waktu, siang malam hal lumrah. Jika hanya pasang saja atau siang saja, bukanlah kehidupan namanya begitu pula sebaliknya. Kehidupan sarat dinamika. Ibarat roda pedati, kadang di atas kadang pula di bawah. Pergantian suasana dan putaran roda itu adalah seni yang memperindah rona kehidupan.
Begitulah hidup ini, yang penting kita menyadari bahwa ada Allah dibalik semua itu. Keikhlasan, kesabaran dan keridhoan menerima taqdir, insya Allah merupakan kunci untuk keluar dari belenggu yang melilit.
Firman Allah Swt dalam Al-Quran
"Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. Al-Baqarah:286)
mengatasi semua kemelut dan rintangan yang ada Allah sampaikan dalam Al-Quran. "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusu'. (QS.Al-Baqarah:43)
Tapi, ketika cita-cita itu berhasil di gapai, bahagia yang diharap datang sesuai harapan, dunia serasa berbunga-bunga. hari-hari begitu indah mempesona. beban hidup serasa menghilang. Canda-tawa, senyum bahagia senantiasa nampak dalam setiap detik. Bahkan waktu pun terasa begitu cepat berlalu.
Kehidupan ibarat gelombang, pasang surut hal biasa, seperti putaran waktu, siang malam hal lumrah. Jika hanya pasang saja atau siang saja, bukanlah kehidupan namanya begitu pula sebaliknya. Kehidupan sarat dinamika. Ibarat roda pedati, kadang di atas kadang pula di bawah. Pergantian suasana dan putaran roda itu adalah seni yang memperindah rona kehidupan.
Begitulah hidup ini, yang penting kita menyadari bahwa ada Allah dibalik semua itu. Keikhlasan, kesabaran dan keridhoan menerima taqdir, insya Allah merupakan kunci untuk keluar dari belenggu yang melilit.
Firman Allah Swt dalam Al-Quran
"Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. Al-Baqarah:286)
mengatasi semua kemelut dan rintangan yang ada Allah sampaikan dalam Al-Quran. "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusu'. (QS.Al-Baqarah:43)
Langganan:
Postingan (Atom)